Sabtu, 28 Mei 2011

Bisa jadi kamu membenci sesuatu namun itu baik bagimu

Bisa jadi kamu membenci sesuatu namun itu baik bagimu


وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Dalam ayat ini ada beberapa hikmah dan rahasia serta maslahat untuk seorang hamba. Karena sesungguhnya jika seorang hamba tahu bahwa sesuatu yang dibenci itu terkadang membawa sesuatu yang disukai, sebagaimana yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, iapun tidak akan merasa aman untuk tertimpa sesuatu yang mencelakakan menyertai sesuatu yang menyenangkan. Dan iapun tidak akan putus asa untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan menyertai sesuatu yang mencelakakan. Ia tidak tahu akibat suatu perkara, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh hamba. Dan ini menumbuhkan pada diri hamba beberapa hal:

1. Bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada melakukan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, walaupun di awalnya terasa berat. Karena seluruh akibatnya adalah kebaikan dan menyenangkan, serta kenikmatan-kenikmatan dan kebahagiaan. Walaupun jiwanya benci, akan tetapi hal itu akan lebih baik dan bermanfaat. Demikian pula, tidak ada yang lebih mencelakakan dia daripada melakukan larangan, walaupun jiwanya cenderung dan condong kepadanya. Karena semua akibatnya adalah penderitaan, kesedihan, kejelekan, dan berbagai musibah.
Ciri khas orang yang berakal sehat, ia akan bersabar dengan penderitaan sesaat, yang akan berbuah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak. Dan ia akan menahan diri dari kenikmatan sesaat yang mengakibatkan kepedihan yang besar dan penderitaan yang berlarut-larut.
Adapun pandangan orang yang bodoh itu (dangkal), sehingga ia tidak akan melampaui permukaan dan tidak akan sampai kepada ujung akibatnya. Sementara orang yang berakal lagi cerdas akan senantiasa melihat kepada puncak akibat sesuatu yang berada di balik tirai permukaannya. Iapun akan melihat apa yang di balik tirai tersebut berupa akibat-akibat yang baik ataupun yang jelek. Sehingga ia memandang suatu larangan itu bagai makanan lezat yang telah tercampur dengan racun yang mematikan. Setiap kali kelezatannya menggodanya untuk memakannya, maka racunnya menghalanginya (untuk memakannya). Ia juga memandang perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala bagai obat yang pahit rasanya, namun mengantarkan kepada kesembuhan dan kesehatan. Maka, setiap kali kebenciannya terhadap rasa (pahit)nya menghalanginya untuk mengonsumsinya, manfaatnyapun akan memerintahkannya untuk mengonsumsinya.
Akan tetapi, itu semua memerlukan ilmu yang lebih, yang dengannya ia akan mengetahui akibat dari sesuatu. Juga memerlukan kesabaran yang kuat, yang mengokohkan dirinya untuk memikul beban perjalanannya, demi mendapatkan apa yang dia harapkan di pengujung jalan. Kalau ia kehilangan ilmu yang yakin dan kesabaran maka ia akan terhambat dari memperolehnya. Tetapi bila ilmu yakinnya dan kesabarannya kuat, maka ringan baginya segala beban yang ia pikul dalam rangka memperoleh kebaikan yang langgeng dan kenikmatan yang abadi.

2. Di antara rahasia ayat ini bahwa ayat ini menghendaki seorang hamba untuk menyerahkan urusan kepada Dzat yang mengetahui akibat segala perkara serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya, karena dia mengharapkan dari-Nya akibat-akibat yang baik.

3. Bahwa seorang hamba tidak boleh memiliki suatu pandangan yang mendahului keputusan Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau memilih sesuatu yang tidak Allah Subhanahu wa Ta'ala pilih serta memohon-Nya sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. Karena barangkali di situlah kecelakaan dan kebinasaannya, sementara ia tidak mengetahuinya. Sehingga janganlah ia memilih sesuatu mendahului pilihan-Nya. Bahkan semestinya ia memohon kepada-Nya pilihan-Nya yang baik untuk dirinya serta memohon-Nya agar menjadikan dirinya ridha dengan pilihan-Nya. Karena tidak ada yang lebih bermanfaat untuknya daripada hal ini.

4. Bahwa bila seorang hamba menyerahkan urusan kepada Rabbnya serta ridha dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala pilihkan untuk dirinya, Allah Subhanahu wa Ta'ala pun akan mengirimkan bantuan-Nya kepadanya untuk melakukan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala pilihkan, berupa kekuatan dan tekad serta kesabaran. Juga, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan palingkan darinya segala yang memalingkannya darinya, di mana hal itu menjadi penghalang pilihan hamba tersebut untuk dirinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala pun akan memperlihatkan kepadanya akibat-akibat baik pilihan-Nya untuk dirinya, yang ia tidak akan mampu mencapainya walaupun sebagian dari apa yang dia lihat pada pilihannya untuk dirinya.

5. Di antara hikmah ayat ini, bahwa ayat ini membuat lega hamba dari berbagai pikiran yang meletihkan pada berbagai macam pilihan. Juga melegakan kalbunya dari perhitungan-perhitungan dan rencana-rencananya, yang ia terus-menerus naik turun pada tebing-tebingnya. Namun demikian, iapun tidak mampu keluar atau lepas dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah taqdirkan. Seandainya ia ridha dengan pilihan Allah Subhanahu wa Ta'ala maka takdir akan menghampirinya dalam keadaan ia terpuji dan tersyukuri serta terkasihi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bila tidak, maka taqdir tetap akan berjalan padanya dalam keadaan ia tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya karena ia bersama pilihannya sendiri. Dan ketika seorang hamba tepat dalam menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ridhanya kepada-Nya, ia akan diapit oleh kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya dalam menjalani taqdir ini. Sehingga ia berada di antara kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya melindunginya dari apa yang ia khawatirkan, dan kelembutan-Nya membuatnya merasa ringan dalam menjalani taqdir-Nya.
Bila taqdir itu terlaksana pada seorang hamba, maka di antara sebab kuatnya tekanan taqdir itu pada dirinya adalah usahanya untuk menolaknya. Sehingga bila demikian, tiada yang lebih bermanfaat baginya daripada berserah diri dan melemparkan dirinya di hadapan taqdir dalam keadaan terkapar, seolah sebuah mayat. Dan sesungguhnya binatang buas itu tidak akan rela memakan mayat.

Segeralah Beramal Dalam Detik-Detik Yang Tersisa Ini

Berbicaralah tentang dunia. Bertanyalah tentangnya. Maka jika engkau dituntun untuk menemukan jawaban yang hakiki, engkau akan dituntun pada satu jawaban. Bahwa ia –dunia itu- hanyalah bayangan yang tidak lama lagi akan hilang. Bahwa ia hanyalah setetes air bila dibandingkan lautan luas tak bertepi.


Sebanyak apapun yang engkau rengkuh di sini, di dunia ini, maka ia hanya setetes. Oh, tidak. Bahkan kurang dari setetes. Karena setetes itu adalah untuk dunia seluruhnya, sementara engkau tak memiliki dunia seluruhnya. Hanya sepersekian dunia ini yang sanggup engkau nikmati.

Duhai, betapa celakanya engkau jika kau sangka dunia ini telah menjadi segala-galanya. Tidak, sahabat. Di sini, di tempat bernama dunia ini, tidak ada yang segala-galanya. Hanya manusia yang tak percaya keabadian akhirat yang akan menjadikan dunia ini segala-galanya. Ingatlah, dunia yang kau lihat gemerlap ini hanya bayangan. Hanya setetes air. Hanya beberapa nafas. Hanya beberapa tahun. Dan setelah itu, engkau akan memasuki gerbang keabadian. Di sana, -dengan limpahan RahmatNya padamu- hanya amalanmu yang akan menuntunmu menaiki anak-anak tangga kebahagiaan. Menuju surga, yang kenikmatannya tak pernah disaksikan oleh pandangan mata siapapun, tak pernah didengarkan oleh telinga siapapun jua dan tak pernah terbetik dalam pikiran dan hati makhluq manapun.

Tapi, di sinilah, di tempat bernama dunia inilah engkau menyemainya. Dunia ini adalah ladang akhiratmu. Di sinilah sumber kebahagiaan dan keberuntunganmu di akhirat. Hanya di sini engkau diizinkan olehNya untuk mengumpulkan bekal yang menguntungkanmu di sana. Di sinilah arena dan gelanggang para muttaqin, shiddiqin dan syuhada’ berlomba menuju ampunan Rabb mereka.

Hmm, kalau saja engkau tahu, dunia inilah yang selalu menjadi angan-angan para penduduk Surga dan para penghuni Neraka. Allah Ta’ala mengatakan tentang penghuni Neraka : “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata : “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah engkau –Muhammad- akan melihat suatu peristiwa yang memilukan.” (QS. 6 : 27)

Dalam ayat lain dikatakan : “Dan mereka (para penghuni neraka) itu berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berbeda dengan dahulu telah kami kerjakan.” (QS. 35 : 37)

Angan-angan yang sia-sia belaka…Hari-hari dunia adalah hari-hari ‘amal, bukan perhitungan dan pembalasan. Tapi hari-hari akhirat adalah hari-hari perhitungan dan pembalasan, bukan ‘amal !

Tentang penghuni surga yang mengangankan dunia, ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan : “ Sesungguhnya para syuhada’ itu bagaikan burung-burung hijau yang lepas bebas di surga ke mana saja ia mau. Kemudian ia akan kembali pada pelita-pelita yang bergantungan di ‘arsy. Dan ketika mereka berada dalam keadaan seperti itu, muncullah Rabb mereka di hadapan mereka seraya berkata : “Wahai hamba-hambaKu, mintalah kepadaKu apa saja yang kalian inginkan !”.
Mereka pun berkata : “Wahai Rabb kami ! Kami meminta padaMu agar Engkau mengembalikan ruh kami ke dalam jasad kami, lalu Engkau kembalikan kami ke dunia hingga kami dibunuh sekali lagi di sana (di jalanMu).”
Maka tatkala Allah melihat bahwa mereka tidak meminta selain hal itu, Dia pun meninggalkan mereka.” ( HR. Muslim)

Allah telah mengetahui bahwa mereka, para syuhada’ itu akan meminta untuk dikembalikan sekali lagi ke dunia dan bahwa mereka tidak akan dikembalikan ke dunia. Namun Allah Ta’ala hendak memberitahukan kepada orang-orang mu’min yang masih hidup di dunia bahwa kelak cita-cita mereka di surga adalah mati terbunuh di jalanNya. Ini tidak lain agar mereka semakin terdorong untuk meraih itu.

Sungguh jauh perbedaan antara kedua angan-angan itu. Sama-sama berangan untuk kembali demi melakukan amal shaleh. Namun yang satu karena merasakan dahsyatnya siksa neraka, sementara yang lain karena telah merasakan ni’mat yang tiada bandingnya.

Seorang salaf bernama Ibrahim At Taimy rahimahullah pernah mengatakan : “Aku membayangkan diriku berada di dalam surga, memakan buah-buahnya, memeluk bidadari-bidadarinya yang perawan dan menikmati segala kenikmatannya. Lalu aku berkata kepada diriku sendiri : “Wahai diriku ! Apa sesungguhnya yang engkau angan-angankan saat ini ??”.
Ia menjawab : “Aku mengangankan untuk dikembalikan ke dunia agar aku dapat menambah amal-amal yang menyebabkan aku mendapatkan semua nikmat ini.”
Lalu aku membayangkan diriku di dalam neraka. Dibakar dengan apinya yang menyala-nyala. Dipaksa untuk meminum air hamim-nya yang dipenuhi darah dan nanah. Dan memakan buah zaqqum-nya yang menjijikkan. Maka aku berkata pada diriku sendiri : “Apakah yang engkau inginkan saat ini ??”

Ia menjawab : “Aku ingin dikembalikan ke dunia lagi agar aku dapat mengerjakan amalan yang dapat menyelamatkan aku dari siksaan yang mengerikan ini.”
(Setelah membayangkan itu semua), akupun berkata pada diriku sendiri : “Wahai diriku ! Engkau telah mendapatkan angan-anganmu itu. (Kini engkau masih berada di dunia), maka segeralah beramal !”.

Sahabatku,
Bahkan ada seorang ulama salaf yang pernah menggali lubang kuburan untuk dirinya sendiri. Bila ia mengalami dan merasakan kejemuan dalam beramal, ia pun turun ke dalam lobang itu. Di sana ia menyelonjorkan tubuhnya. Lalu berkata : “Wahai diriku ! Anggaplah sekarang ini engkau telah mati dan telah berada dalam liang lahadmu, apakah yang engkau inginkan ?”.
Maka ia pun menjawab : “Aku ingin dikembalikan lagi ke dunia agar aku dapat beramal shaleh.”
Ia lalu mengatakan kepada dirinya sendiri : “Sekarang engkau telah mendapatkan apa yang engkau inginkan. (Engkau sekarang masih hidup di dunia). Bangunlah dan kerjakanlah amal shaleh itu !”.
Demikianlah sahabat. Jika engkau mengetahui tentang para penghuni kubur itu, engkau akan tahu apa yang selalu mereka angan-angankan. Mereka selalu mengangankan dapat bertasbih persis seperti yang engkau lakukan saat ini, walau hanya sekali saja. Mereka akan iri melihatmu tegak mengerjakan shalat. Duhai, andai kami dapat mengerjakannya walau hanya satu raka’at saja, begitulah kata mereka. Jika dahulu di dunia mereka adalah pemilik kekayaan yang melimpah, maka di sana, di alam kubur itu, mereka berharap dapat bersedekah meski hanya serupiah dua rupiah. Yang penting ada tambahan catatan kebajikan di sisi Allah. Yah, jika engkau berada di tempat itu, seperti itulah angan-anganmu sepanjang waktu.

Ibn Qudamah rahimahullah meriwayatkan dalam Washiyat-nya (hal.13) bahwa suatu ketika ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat dua raka’at di samping sebuah kuburan. Setelah itu ia bersandar hingga tertidur. Dan di dalam tidurnya ia bermimpi seperti melihat penghuni kubur itu berkata padanya : “Menjauhlah dariku !! Engkau telah menyakitiku. Demi Allah, sungguh dua raka’at yang engkau kerjakan itu jika saja aku yang mengerjakannya, maka ia jauh lebih aku sukai daripada dunia beserta isinya. Sungguh kalian yang masih hidup ini selalu beramal tapi sama sekali tidak mengetahui hakikat kematian ini. Tapi kami, kami telah mengetahuinya namun kami tidak dapat lagi mengerjakan amalan apapun.”

Maka, sahabatku…
Sadarilah bahwa masa hidup kita sungguh terbatas. Nafas kita hanya berbilang. Setiap tarikan dan hembusan nafas tak lebih dari sebuah pertanda bahwa usia kita di dunia telah berkurang. Sungguh sangat singkat usia duniawi kita ini. Karenanya, setiap penggalan bahkan setiap bagian terkecilnya adalah permata yang tak ternilai dan tiada bandingnya. Ingatlah, bahwa dengan kehidupan yang singkat ini akan terjadi sebuah kehidupan yang abadi, abadi dalam kenikmatan atau abadi dalam azab yang penuh pedih-perih.

Bila kita mencoba membandingkan kehidupan ini dengan kehidupan akhirat, akan sadarlah kita bahwa setiap nafas itu berbanding lebih besar daripada beribu-ribu tahun di akhirat ; entah itu dalam kenikmatan yang tak berbatas atau sebaliknya.

Karenanya jangan sia-siakan permata umurmu tanpa melakukan suatu amalan. Jangan engkau biarkan ia pergi tanpa mendapatkan balasan yang setimpal. Bersungguh-sungguhlah agar setiap tarikan nafasmu tak pernah kosong dari keshalehan dan taqarrub padaNya. Sebab jika engkau kehilangan sebutir permata duniamu, betapa sedihnya hatimu…Tapi bagaimana jika yang hilang adalah permata akhiratmu ? Bagaimana mungkin engkau tega menyia-nyiakan dan membuang detik-detikmu begitu saja ? Bagaimana mungkin engkau ‘tenang-tenang’ saja, padahal semakin banyak jejak-jejak usiamu di dunia ini yang terhapus ?

Bayangkanlah jeritan penyesalan para penghuni kubur dan neraka itu. Air mata darah sekalipun tak memberi mereka jalan untuk kembali ke dunia. Sia-sia belaka. Sahabatku, kini, aku dan kau masih di sini. Yah, masih di dunia fana ini. Tempat kita menyemai tanaman akhirat. Maka segeralah beramal !