Kamis, 14 Oktober 2010

PAHALA SHABAR

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:

"Apabila telah Ku-bebankan kemalangan (bencana) kepada salah seorang hamba-Ku pada badannya, hartanya, atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar yang sempurna, Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada hari qiamat atau membukakan buku catatan amalan baginya. (HQR al-Qudla'i. ad-Dailami dan al-Hakimut-Thurmudzi dari Anas r.a)

Shabar adalah menahan diri dan membawanya kepada yang dituntunkan syara dan akal serta menghindarkannya dari apa yang dibenci oleh keduanya. Jadi shabar ialah suatu kekuatan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban. Di samping itu shabar adalah suatu kekuatan (daya) preventive yang menghalangi seseorang untuk melakukan kejahatan. Shabar yaitu sifat yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedang dorongan hawa nafsu ialah tuntutan syawat dan keinginan yang minta dilaksanakan. Barang siapa yang tetap tegak bertahan sehingga dapat menundukkan dorongan hawa nafsu secara terus-menerus, orang tersebut termasuk golongan orang yang shabar.

Allah SWT. kadangkala melaksanakan hukuman di dunia ini dengan memberikan ujian dan cobaan dalam berbagai bentuk seperti :

>> Cobaan bandaniyah dan rohaniyah yang berupa penyakit, luka, cacat pada salah satu anggotanya, gigitan nyamuk, tusukan jarum, rasa susah, gelisah, duka cita, rasa tidak aman (takut) dan lain2,

>> Cobaan melalui harta kekayaannya berupa kehilangan, kebakaran, kekurangan, ketiadaan, kerusakkan dan sebagainya.

>> Cobaan melalui sanak keluarga dan keturunannya seperti kematian, keculikan, cacat pada syaraf dan otaknya, lumpuh dan lain2.

Kesemua bala' ujian dan cobaan tersebut mungkin terjadi karena:

>> Hasil undangan dari kedurhakaan manusia sendiri, hasil usaha perbuatan dan kelakuannya sendiri yang dihukum di dunia ini oleh Allah SWT. sebagai pembalasan kontan dan spontan. Kemungkinan ini terjadi sebagai tanda kasih sayang-Nya untuk menghapuskan dosa kedurhakaannya di duniaini, dan ia akan keluar dari dunia ini dalam keadaan suci bersih. Kemungkianan lainnya ialah untuk meninggikan martabatnya, baik di dunia maupun di akhirat.

>> Takdir Allah sendiri untuk menguji hamba-Nya terus-menerus dirundung malang, dan kelak akan diganti di akhirat dengan rahmat dan keridhoan-Nya. Apabila seseorang menghadapi cobaan dan penderitaan itu dengan ridho, ikhlas dan mencari jalan keluar dengan cara yang sebaik-baiknya, tidak mengeluh, mengaduh apalagi merintih, maka Allah SWT pasti akan memudahkan baginya urusan hisab-Nya. Allah akan menyegerakan pahalanya, memberkati kehidupannya sehingga timbangannya tidak berat kepada kejahatan. dan akan dimasukkan ke surga Jannatun-Na'im.  Begitu juga Allah SWT tidak akan membukakan rahasianya di hadapan khalayak ramai di yaumil Masyar kelak.

Berkenaan dengan shabar, Allah telah menyebutkan di dalam al-Qur'an sebanyak tidak kurang dari delapan puluh kali, dalam berbagai bentuk, untuk menunjukkan betapa tinggi nilai dan keutamaannya.

Kebanyakkan orang menduga bahwa shabar berarti merendahkan diri dan menyerahkan kepada keadaan, membiarkan diri hanyut dalam situasi dan kondisi, atau menghentikan usaha tanpa ikhtiar mencari jalan keluar yang baik tanpa memperbaiki dan memperkuat amal perbuatan dan berlaku ridho terhadap apa yang terjadi.

SHABAR ialah:  menhadapi cobaan atau ujian dengan cara yang baik, berikhtiar mencari jalan keluar dengan cara yang baik melakukan amal perbuatan yang sholeh dan usaha yang terpuji, sambil menjadikakan pengalamannya itu suatu dorongan untuk mempunyai kemauan yang keras, keimanan dan keyakinan (istiqomah).

Dalam Filsafat Islam Shabar ada 5 macam, yaitu:

1. Shabar dalam beribadat, adl: tekun mengendalikan diri melaksanakan syarat2 dan tata tertib ibadah.

2. Shabar di timpah mala petaka atau musibah, teguh hati ketika mendapat musibah baik berupa kemiskinan, kematian, kecelakaan, kejatuhan, diserang penyakit dan sebagainya.

3. Shabar terhadap kehidupan dunia, yaitu shabar terhadap tipu daya dunia, tidak terpaut kepada kenikmatan hidup di dunia, tdk menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidupnya, tetapi sebagai alat untuk mempersiapkan diri menuju akhirat.

4. Shabar terhadap maksiat, yaitu mengendalikan diri supaya tidak berlaku maksiat.

5. Shabar dalam perjuangan (as-Shabru fil jihad), menyadari sepenuhnya setiap perjuangan mengalami masa naik dan turun, masa menang dan kalah.

Dalam firman Allah Ta'ala:

Sesungguhnya kami akan uji kalian dengan suatu cobaan berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. berikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang shabar, Yaitu orang-orang yang ketika ditimpah kesusahan (musibah) mereka berkata: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya pula kami kembali". Mereka orang-orang yang mendapat kurnia, kehormatan dan rahmat dari Allah dan merekalah orang-orang yang memperoleh hidayah.  (Q.S. al-Baqarah: 155-157)

Seyogyanya kita ambil contoh tauladan dari ummat terdahulu, bagaimana mereka menghias diri dengan keshabaran, shabar yang indah yang tidak mengenal keluh kesah ataupun resah gelisah. Mereka menganggap bahwa shabar itu adalah satu kekuatan yang mendorong seseorang untuk berbuat baik dan merupakan benteng untuk berbuat jahat atau perbuatan yang tidak baik. Mereka berkeyakinan penuh dalam ta'at kepada Allah termasuk shabar.

Sebagai seorang muslim, hendaknya dalam menghadapi setiap persoalan dan situasi, mengambil shabar sebagai perisai untuk mencapai kemenangan. Allah berfirman dalam al-Qur'an :

"Hai orang-orang yang beriman, berlaku shabarlah dan perkuat keshabaran di antara sesama kalian, dan bersiap siagalah kalian serta bertaqwalah kepada Allah suapaya kalian memperoleh kemenangan. (Q.S. Ali Imran:200)

Marilah kita memohon kepada ke hadirat Allah agar Dia menghiasi kita dengan shabar, saling menyabarkan, siap-siaga dan waspada serta taqwa dalam segala situasi dan kondisi. Amin ya Rabbal'alamin.


TENTANG AQIDAH

Akidah yang lurus, yakni Islam adalah modal awal bagi diterimanya semua amal kebaikan. Jika terjadi penyimpangan di dalamnya, syirik misalnya, maka akidah itu menjadi tidak berguna sama sekali.

Allah berfirman, "Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (QS Al An'am: 88). Apalagi kekufuran, ia mengantarkan pelakunya kepada kesia-siaan, apapun kebajikan yang dilakukannya;

"Siapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan ia di hari Akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (QS Al Maidah: 5)

Karena itu akidah yang lurus harus senantiasa kita pertahankan dan kita jaga, betapapun besar fitnah yang mengguncang. Akhir-akhir ini banyak fitnah akidah yang menimpa umat Islam, di antaranya isu bahwa tuhan yang disembah oleh penganut agama-agama adalah sama. Hal ini tidak mustahil bisa mengarah pada gagasan penyatuan agama-agama.

Lalu, apakah benar bahwa dengan mempelajari ajaran agama lain, kita bisa memantapkan keimanan kita?.

* Agar kita tidak mudah termakan oleh berbagai isu tersebut, sekaligus untuk memantapkan keimanan dan ketauhidan kita, berikut ini dinukilkan fatwa yang dikeluarkan oleh Lembaga Fatwa Saudi Arabia yang beranggotakan ulama-ulama besar Saudi Arabia tentang gagasan penyatuan agama-agama serta berbagai masalah akidah yang berkaitan dengannya.

Menjawab berbagai pertanyaan yang terus mengalir, maka setelah mempelajari dan menganalisa tentang masalah seruan terhadap penyatuan agama-agama atau pendekatan antar agama, dengan ini Lembaga Fatwa Saudi Arabia menfatwakan hal-hal berikut:

* Di antara prinsip-prinsip akidah dalam Islam yang wajib diketahui setiap muslim serta telah menjadi konsensus (kesepakatan) umat Islam adalah di muka bumi ini tidak ada agama yang haq selain dari agama Islam. Islam adalah penutup semua agama dan syari'at. Islam datang untuk menghapus agama-agama sebelumnya, juga segenap syari'atnya. Oleh sebab itu maka tidak ada agama di muka bumi ini yang karenanya kita menyembah Allah kecuali agama Islam. Allah berfirman, "Barang siapa mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali (agama itu) tidak akan diterima daripadanya, dan kelak di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi." (Ali Imran: 85)

* Termasuk prinsip akidah dalam Islam adalah bahwasanya kitab Allah Al Qur'anul Karim adalah kitab yang terakhir diturunkan oleh Allah, dan Al Qur'an menghapus berlakunya kitab-kitab yang diturun-kan Allah sebelumnya, seperti Taurat, Zabur, Injil dan lainnya. Tidak ada kitab selain Al Qur'an yang dengan-nya kita beribadah kepada Allah.>> "Dan kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian tehadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." (QS Al Maidah: 48)

* Kita wajib mengimani bahwa kitab Taurat dan Injil telah dihapus dan tidak berlaku lagi dengan diturunkannya Al Qur'an. Dan bahwa pada keduanya telah terjadi penyelewengan, perubahan, penambahan dan pengurangan.

Hal ini sebagai-mana telah dijelaskan Allah dalam banyak firman-Nya, di antaranya;

* "(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat)." (QS Al Maidah: 13)

* "Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan-tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan." (QS Al Baqarah: 79)

* "Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah," Padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui." (QS Ali Imran: 78)

Karena itu, apa saja yang ada dalam kitab-kitab itu maka dia telah terhapus dengan datangnya Islam.

Selain dari pada itu ia telah banyak diubah dan diganti. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam marah saat melihat Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu memegang lembaran yang berisi Kitab Taurat, bahkan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

"Apakah engkau masih ragu-ragu wahai Ibnu Khattab? Bukankah aku telah datang dengannya dalam keadaan putih bersih? Seandainya saudaraku Musa masih hidup, ia tidak ada pilihan lain kecuali (harus) mengikutiku." (HR. Ahmad, Ad Darimi dan lainnya)

* Di antara prinsip-prinsip akidah Islam yang lain yaitu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah penutup segenap nabi dan rasul, seperti difirmankan Allah:

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi." (QS Al Ahzab [33]: 40)

Karena itu, tidak ada seorang rasul pun yang wajib diikuti pada saat ini kecuali Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bahkan seandainya salah satu dari nabi dan rasul Allah hidup kembali, mereka tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Hal ini ditegaskan Allah dalam firmanNya:

"Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada-mu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman, "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjianKu terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab, "Kami mengakui."

Allah berfirman, "Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." (QS Ali Imran [3]: 81)

Dan Nabi Isa Alaihis Salam jika telah turun pada akhir zaman, niscaya ia akan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam serta berhukum dengan syari'atnya.

Allah berfirman,

"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka." (QS Al A'raaf [7]: 157)

* Juga termasuk prinsip akidah Islam yaitu bahwa diutusnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah untuk segenap manusia.

Allah berfirman,

"Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyak-an manusia tidak mengetahuinya." (QS Saba' [34]: 28)

"Katakanlah (hai Muhammad), hai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semua."

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya.

* Di antara prinsip-prinsip Islam lainnya yaitu kita wajib meyakini bahwa orang yang tidak memeluk agama Islam adalah kafir, baik mereka itu Yahudi, Nashrani atau lainnya. Dan bahwa mereka itu adalah musuh Allah serta pasti masuk Neraka.

Allah berfirman, "Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik mengatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata." (QS Al Bayyinah [98]: 1).

Allah juga berfirman, "Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk." (Al Bayyinah [98]: 6)

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

"Demi Dzat yang jiwaku di TanganNya, tidak seorangpun mendengar tentangku dari umatku ini, baik seorang Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk penghuni Neraka."

>> Karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan orang Yahudi dan Nashrani maka orang itu kafir, sebagaimana dalam kaidah syari'at disebutkan: "Siapa yang tidak mengkafirkan orang yang kafir, maka dia adalah orang kafir."

* Keenam: Berdasarkan berbagai prinsip akidah dan hakekat syari'at sebagaimana disebutkan terdahulu, maka seruan kepada penyatuan agama-agama, pendekatan antaragama atau menjadikannya sebagai satu agama himpunan adalah suatu kekejian dan kemungkaran, tuju-annya mencampur adukkan antara yang haq dengan yang batil, menghancurkan Islam, membinasakan pilar-pilar penyangganya serta menyeret para pemeluknya kepada kemurtadan secara total. Hal ini sesuai dengan firman Allah, "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka dapat mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (QS Al Baqarah [2]: 217)

"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)." (QS An Nisa [4]: 89)

* Di antara bentuk seruan penyatuan agama-agama itu adalah meniadakan perbedaan antara Islam dan kekufuran, kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan kemungkaran serta menghancurkan pembatas antara umat Islam dan orang-orang kafir. Tidak ada lagi Wala' (kesetiaan kepada Islam) dan Bara' (berlepas diri dari kekufuran). Tidak ada lagi jihad untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

* Sesungguhnya jika seruan kepada penyatuan agama-agama itu datang dari seorang muslim maka itu berarti ia telah murtad dari agama Islam, karena hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah, sehingga dia rela dengan kekufuran, menafikan kebenaran Al Qur'an dan bahwa ia meng-hapus berlakunya kitab-kitab yang diturunkan sebe-lumnya, menghapus seluruh syari'at dan agama yang ada sebelumnya. Berda-sarkan itu semua, maka ide dan gagasan penyatuan agama-agama hukumnya haram ditinjau dari Al Qur'an dan Ijma'.

* Berdasarkan apa yang telah dipaparkan di muka maka perlu diketahui hal-hal berikut:

1. Seorang muslim yang mengimani Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya tidak boleh menyerukan kepada ide dan gagasan penyatuan agama-agama tersebut, apalagi menerima dan menerapkannya dalam kehidupan di tengah-tengah umat Islam. 2. Seorang muslim tidak dibolehkan mencetak Taurat dan Injil, apalagi jika mencetaknya dengan disatukan bersama Al Qur'an dalam satu sampul. Siapa yang melakukan atau menyeru kepadanya maka dia telah tersesat. Karena itu berarti telah mencampur-adukkan antara yang benar dengan yang batil, yang diberlakukan oleh Allah dengan yang sudah dihapuskanNya. 3. Seorang muslim haruslah meyakini bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah. Mengakui dan menyeru bahwa agama bagi penduduk di muka bumi ada tiga, dan di mana saja yang dipilih akan sama saja belaka, tak diragukan lagi adalah suatu kekufuran dan kesesatan. Sebab hal itu jelas-jelas bertentangan sekali dengan Al Qur'an, As Sunnah dan Ijma' ulama Islam.

Sebagaimana tidak dibenarkan pula menamai tempat-tempat ibadah selain masjid dengan "Baitullah" (Rumah Allah) dan bahwa orang-orang yang beribadah di dalamnya beribadah secara benar dan diterima di sisi Allah. Sebab mereka beribadah tidak atas dasar agama Islam, padahal Allah berfirman, "Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (QS Ali Imran: 85)

Sebaliknya, ia adalah rumah yang di dalamnya Allah diingkari dan dikufuri. Kami berlindung kepada Allah dari kekufuran dan para pendukungnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam Majmu' Fatawa, 22/162 mengatakan: "Biara-biara dan gereja-gereja itu bukanlah rumah-rumah Allah. Rumah-rumah Allah hanyalah masjid-masjid. Sebaliknya, ia adalah rumah-rumah di mana Allah diingkari dan dikufuri, meskipun terkadang di dalamnya disebut nama Allah. Rumah-rumah itu adalah tergantung kepada para penghuninya, sedangkan para penghuni rumah-rumah itu adalah orang-orang kafir, karena itu ia adalah rumah-rumah ibadah orang-orang kafir.

4.Wajib diketahui bahwa mendakwah-kan Islam kepada segenap umat manusia hukumnya wajib bagi umat Islam, berdasar-kan dalil-dalil yang tegas dari Al Qur'an dan As Sunnah. Tetapi, hal itu tidak boleh kecuali dengan jalan penjelasan dan dialog yang baik (jidal hasan), dengan tidak merendahkan sedikitpun terhadap syari'at-syari'at Islam, sehingga mereka puas dan telah tegak hujjah di hadapannya. "Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata (pula)." (QS Al Anfal: 42)

"Katakanlah, 'Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, 'Saksi- kanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

(QS Ali Imran: 64) Adapun menyelenggarakan dialog dengan mereka agar kita tunduk dengan keinginan mereka, untuk merealisasikan tujuan-tujuan mereka dan mencerabut iman dan akidah Islam, maka hal itu adalah batil, tidak dibenarkan Allah dan RasulNya dan orang-orang beriman.

Allah berfirman: "Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu." (QS Al Ma'idah: 49)

* Jika hal-hal di atas telah jelas bagi umat manusia, maka kami berpesan kepada umat Islam pada umumnya dan khususnya para ahli ilmu agar bertakwa kepada Allah dan senantiasa menjagaNya, meneguhkan Islam dan menjaga akidah umat Islam dari kesesatan dan para penyerunya, dari kekufuran dan para pemeluknya, serta agar mewaspadai seruan penyatuan agama-agama, dan dari terjerumus ke dalamnya.

Kita berlindung kepada Allah dari setiap orang Islam yang menjadi sebab bagi kesesatan tersebut ke segenap negeri-negeri Islam.

Kita memohon kepada Allah dengan Nama-namaNya Yang Maha Indah dan Sifat-sifatNya Yang Maha Agung agar menghindarkan kita dari fitnah yang menyesatkan tersebut.

Dan semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk, para pembenteng Islam dengan petunjuk dan cahaya dari Tuhan kita, sampai kita menemuiNya sedang Dia ridha kepada kita. Semoga shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, segenap keluarga, sahabat dan para pengikut mereka yang setia. Amin.

>> Subhanakallahumma rabbana wabihamdika...Asyhadu anla ilaha illa Anta...Astaghfiruka wa'atubu illayka

Faghfirlie Yaa Allah, innaka Anta tawwaburrahiim..."

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..



MEMPERINDAH HATI

Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.

Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

Rasulullah SAW bersabda, "Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!" (HR. Bukhari dan Muslim).

Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah. Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah,demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah dunia yang indah dan melimpah.

Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian hatinya.

Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit).

Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.

Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, "Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru." (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.

Suatu saat ketika Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.

Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini.

Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, "Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa." (QS. Al Baqarah [2] : 286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Mahasuci Allah dari perbuatan zhalim kepada hamba-hamba-Nya.

Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun jua.

Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah hatinya.