Kamis, 14 Oktober 2010

PAHALA SHABAR

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:

"Apabila telah Ku-bebankan kemalangan (bencana) kepada salah seorang hamba-Ku pada badannya, hartanya, atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar yang sempurna, Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada hari qiamat atau membukakan buku catatan amalan baginya. (HQR al-Qudla'i. ad-Dailami dan al-Hakimut-Thurmudzi dari Anas r.a)

Shabar adalah menahan diri dan membawanya kepada yang dituntunkan syara dan akal serta menghindarkannya dari apa yang dibenci oleh keduanya. Jadi shabar ialah suatu kekuatan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban. Di samping itu shabar adalah suatu kekuatan (daya) preventive yang menghalangi seseorang untuk melakukan kejahatan. Shabar yaitu sifat yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedang dorongan hawa nafsu ialah tuntutan syawat dan keinginan yang minta dilaksanakan. Barang siapa yang tetap tegak bertahan sehingga dapat menundukkan dorongan hawa nafsu secara terus-menerus, orang tersebut termasuk golongan orang yang shabar.

Allah SWT. kadangkala melaksanakan hukuman di dunia ini dengan memberikan ujian dan cobaan dalam berbagai bentuk seperti :

>> Cobaan bandaniyah dan rohaniyah yang berupa penyakit, luka, cacat pada salah satu anggotanya, gigitan nyamuk, tusukan jarum, rasa susah, gelisah, duka cita, rasa tidak aman (takut) dan lain2,

>> Cobaan melalui harta kekayaannya berupa kehilangan, kebakaran, kekurangan, ketiadaan, kerusakkan dan sebagainya.

>> Cobaan melalui sanak keluarga dan keturunannya seperti kematian, keculikan, cacat pada syaraf dan otaknya, lumpuh dan lain2.

Kesemua bala' ujian dan cobaan tersebut mungkin terjadi karena:

>> Hasil undangan dari kedurhakaan manusia sendiri, hasil usaha perbuatan dan kelakuannya sendiri yang dihukum di dunia ini oleh Allah SWT. sebagai pembalasan kontan dan spontan. Kemungkinan ini terjadi sebagai tanda kasih sayang-Nya untuk menghapuskan dosa kedurhakaannya di duniaini, dan ia akan keluar dari dunia ini dalam keadaan suci bersih. Kemungkianan lainnya ialah untuk meninggikan martabatnya, baik di dunia maupun di akhirat.

>> Takdir Allah sendiri untuk menguji hamba-Nya terus-menerus dirundung malang, dan kelak akan diganti di akhirat dengan rahmat dan keridhoan-Nya. Apabila seseorang menghadapi cobaan dan penderitaan itu dengan ridho, ikhlas dan mencari jalan keluar dengan cara yang sebaik-baiknya, tidak mengeluh, mengaduh apalagi merintih, maka Allah SWT pasti akan memudahkan baginya urusan hisab-Nya. Allah akan menyegerakan pahalanya, memberkati kehidupannya sehingga timbangannya tidak berat kepada kejahatan. dan akan dimasukkan ke surga Jannatun-Na'im.  Begitu juga Allah SWT tidak akan membukakan rahasianya di hadapan khalayak ramai di yaumil Masyar kelak.

Berkenaan dengan shabar, Allah telah menyebutkan di dalam al-Qur'an sebanyak tidak kurang dari delapan puluh kali, dalam berbagai bentuk, untuk menunjukkan betapa tinggi nilai dan keutamaannya.

Kebanyakkan orang menduga bahwa shabar berarti merendahkan diri dan menyerahkan kepada keadaan, membiarkan diri hanyut dalam situasi dan kondisi, atau menghentikan usaha tanpa ikhtiar mencari jalan keluar yang baik tanpa memperbaiki dan memperkuat amal perbuatan dan berlaku ridho terhadap apa yang terjadi.

SHABAR ialah:  menhadapi cobaan atau ujian dengan cara yang baik, berikhtiar mencari jalan keluar dengan cara yang baik melakukan amal perbuatan yang sholeh dan usaha yang terpuji, sambil menjadikakan pengalamannya itu suatu dorongan untuk mempunyai kemauan yang keras, keimanan dan keyakinan (istiqomah).

Dalam Filsafat Islam Shabar ada 5 macam, yaitu:

1. Shabar dalam beribadat, adl: tekun mengendalikan diri melaksanakan syarat2 dan tata tertib ibadah.

2. Shabar di timpah mala petaka atau musibah, teguh hati ketika mendapat musibah baik berupa kemiskinan, kematian, kecelakaan, kejatuhan, diserang penyakit dan sebagainya.

3. Shabar terhadap kehidupan dunia, yaitu shabar terhadap tipu daya dunia, tidak terpaut kepada kenikmatan hidup di dunia, tdk menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidupnya, tetapi sebagai alat untuk mempersiapkan diri menuju akhirat.

4. Shabar terhadap maksiat, yaitu mengendalikan diri supaya tidak berlaku maksiat.

5. Shabar dalam perjuangan (as-Shabru fil jihad), menyadari sepenuhnya setiap perjuangan mengalami masa naik dan turun, masa menang dan kalah.

Dalam firman Allah Ta'ala:

Sesungguhnya kami akan uji kalian dengan suatu cobaan berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. berikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang shabar, Yaitu orang-orang yang ketika ditimpah kesusahan (musibah) mereka berkata: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya pula kami kembali". Mereka orang-orang yang mendapat kurnia, kehormatan dan rahmat dari Allah dan merekalah orang-orang yang memperoleh hidayah.  (Q.S. al-Baqarah: 155-157)

Seyogyanya kita ambil contoh tauladan dari ummat terdahulu, bagaimana mereka menghias diri dengan keshabaran, shabar yang indah yang tidak mengenal keluh kesah ataupun resah gelisah. Mereka menganggap bahwa shabar itu adalah satu kekuatan yang mendorong seseorang untuk berbuat baik dan merupakan benteng untuk berbuat jahat atau perbuatan yang tidak baik. Mereka berkeyakinan penuh dalam ta'at kepada Allah termasuk shabar.

Sebagai seorang muslim, hendaknya dalam menghadapi setiap persoalan dan situasi, mengambil shabar sebagai perisai untuk mencapai kemenangan. Allah berfirman dalam al-Qur'an :

"Hai orang-orang yang beriman, berlaku shabarlah dan perkuat keshabaran di antara sesama kalian, dan bersiap siagalah kalian serta bertaqwalah kepada Allah suapaya kalian memperoleh kemenangan. (Q.S. Ali Imran:200)

Marilah kita memohon kepada ke hadirat Allah agar Dia menghiasi kita dengan shabar, saling menyabarkan, siap-siaga dan waspada serta taqwa dalam segala situasi dan kondisi. Amin ya Rabbal'alamin.